Sunday, 21 April 2013

Short Stories II - Prologue

kling

Suara bel di pintu ini sedikit merisihkan buatku. Entah apa yang membawaku kemari, namun akhir-akhir ini aku semakin sering datang ke cafe ini. Masih sepi, namun sudah ada beberapa orang yang kuperkirakan adalah pelanggan tetap cafe ini, aku memang sering melihat mereka selalu kemari di waktu-waktu seperti ini, pagi menjelang siang.

Ah, itu meja favoritku masih kosong. Untuk ke sekian kalinya kumenduduki kursi favoritku, dengan meja di depan panggung kecil, tempat biasa dia melakukan kegemarannya, bernyanyi.

***


Friday, 27 April 2012

Poetry XVII

Nyanyian Semak-semak Hutan
karya M. Fariz Juliansyah

Kumbang-kumbang merapat
Berkata akan mengadakan rapat
Siapa yang akan dijerat
Ah dia si kupu-kupu keparat

Laba-laba merajut sutra
Siapa yang salah ia bertanya
Berkumpul hanya untuk berkata
Kemana sang pelepas dahaga

Bunuh aku mereka menangis
Dari hati yang termanis
Siapa berani mendesis
Merekalah kumbang dalam tragis

Siapa salah, siapa salah
Tanpa jawab masih saja bertanya
Dalam belaian sutra sang laba-laba
Semua korban dari hati tanpa rasa

Thursday, 19 January 2012

Terkadang, Aku Memikirkan Banyak Hal

Terkadang, jawaban datang disaat kita sama sekali tidak memikirkannya, atau telah melupakannya.

Terkadang, seseorang tidak ditakdirkan untuk bersama.

Terkadang, seseorang ditakdirkan hanya untuk menjadi pengagum rahasia, tidak lebih.

Terkadang, kepahitan adalah hal termanis dalam hidup ini.

Terkadang, butuh waktu untuk menyadari realita.

Terkadang, diam menjadi jalan pintas.

Terkadang, kau bahkan tak tahu siapa dirimu sendiri.

dan Terkadang, banyak hal yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Saturday, 24 December 2011

Poetry XVI

Dengan Kesendirianku
Karya M. Fariz Juliansyah

Bayangku di ujung sebrang
Dengan jurang tanpa jembatan
Bagaimana bisa kuraih?
Bagaimana kuraih dirimu kembali?

Kau bersamannya
Dengan aku yang kau damba
Dan bayang yang lama
Tanpa tahu saat ini berbeda

Maaf akanku yang telah hilang
Jauh ditelan kebosanan
Dan ketidaktahuan akan jalan
Kepada pelukmu yang nyaman

Aku disini sendiri tanpa arah
Dan kau disana dengan semua harapmu
Tanpa jembatan diantara kita..

Wednesday, 28 September 2011

Poetry XV

Aku Pada Rindu
karya M. Fariz Juliansyah

Rindu.
Aku pada mentari cerahmu.
Aku pada terik paras wajahmu.
Aku pada senja senyummu.
Aku pada bintang di matamu.

Rindu.
Aku pada merdu suaramu.
Aku pada lembut genggammu.
Aku pada erat pelukmu.
Aku pada ciummu.

Rindu.
Aku pada kisahmu.
Aku pada kasihmu.
Aku bersamamu.
Selalu kurindu.

Friday, 22 July 2011

Aku Semakin Tuaaa!!!

ga kerasa udah 18 tahun gue hidup di bumi ini.
walau beberapa tahun masa kecil gue ga ada yang gue inget.
tetep aja gue udah bernapas selama 18 tahun.
iya, gue tau.
gue semakin tua :"

"gambaran beberapa tahun kedepan."

dan di ultah gue yang ke 18 ini gue dikerjain sama pacar gue.

Monday, 11 July 2011

Poetry XIV

Biarkan Aku Menjalang
karya M. Fariz Juliansyah

Cinta benci terbatas benang
Yang kalah tak pernah menang
Satu langkah dan kau hilang
Menjauh dari si jalang

Biarkan aku perih, tanpa peduli mendampingi
Biarkan aku marah, karena perih yang meresah
Biarkan aku kaku, pelu tergantung bencimu
Biarkan aku tewas, mati tertelan kecewa

Biarkan aku sendu, agar biru menjadi kelu
Biarkan aku lemah, agar merah karena darah
Biarkan aku hilang, agar hitam ditelan malam
Biarkan aku luka, agar warna hilang makna

Benci aku!
Benci aku sepuasmu!
Dan cintai aku.
Cintai aku seperti lalu.