ATTENTION:
"Dalam membaca post kali ini harap agak didramatisir. please.
Authornya lagi galau ga punya pacar. Prihatin dikitlah."
oke.
anggap aja suasana lagi gelap.
segelap hati sang penulis.
tapi tunggu.
please jangan kaget dulu.
gue cuma mau cerita.
sebuah kisah di ujung samudra.
semua berawal dari. . . .
Thursday, 20 June 2013
Tuesday, 18 June 2013
[TRAILER] Film Dokumenter
oke. jadi gini.
bagi yang belum tau, gue bocah semester 4 jurusan DKV.
*standing applause*
daaaaan...
satu semester ini gue ada tugas bikin film dokumenter!
keren ga tuh? iya gue emang keren. ehem.
sebelum acara puncak, mending nonton trailernya dulu~
Sunday, 21 April 2013
Short Stories II - Prologue
kling
Suara bel di pintu ini sedikit merisihkan buatku. Entah apa yang membawaku kemari, namun akhir-akhir ini aku semakin sering datang ke cafe ini. Masih sepi, namun sudah ada beberapa orang yang kuperkirakan adalah pelanggan tetap cafe ini, aku memang sering melihat mereka selalu kemari di waktu-waktu seperti ini, pagi menjelang siang.
Ah, itu meja favoritku masih kosong. Untuk ke sekian kalinya kumenduduki kursi favoritku, dengan meja di depan panggung kecil, tempat biasa dia melakukan kegemarannya, bernyanyi.
Suara bel di pintu ini sedikit merisihkan buatku. Entah apa yang membawaku kemari, namun akhir-akhir ini aku semakin sering datang ke cafe ini. Masih sepi, namun sudah ada beberapa orang yang kuperkirakan adalah pelanggan tetap cafe ini, aku memang sering melihat mereka selalu kemari di waktu-waktu seperti ini, pagi menjelang siang.
Ah, itu meja favoritku masih kosong. Untuk ke sekian kalinya kumenduduki kursi favoritku, dengan meja di depan panggung kecil, tempat biasa dia melakukan kegemarannya, bernyanyi.
***
Friday, 27 April 2012
Poetry XVII
Nyanyian Semak-semak Hutan
karya M. Fariz Juliansyah
Kumbang-kumbang merapat
Berkata akan mengadakan rapat
Siapa yang akan dijerat
Ah dia si kupu-kupu keparat
Laba-laba merajut sutra
Siapa yang salah ia bertanya
Berkumpul hanya untuk berkata
Kemana sang pelepas dahaga
Bunuh aku mereka menangis
Dari hati yang termanis
Siapa berani mendesis
Merekalah kumbang dalam tragis
Siapa salah, siapa salah
Tanpa jawab masih saja bertanya
Dalam belaian sutra sang laba-laba
Semua korban dari hati tanpa rasa
karya M. Fariz Juliansyah
Kumbang-kumbang merapat
Berkata akan mengadakan rapat
Siapa yang akan dijerat
Ah dia si kupu-kupu keparat
Laba-laba merajut sutra
Siapa yang salah ia bertanya
Berkumpul hanya untuk berkata
Kemana sang pelepas dahaga
Bunuh aku mereka menangis
Dari hati yang termanis
Siapa berani mendesis
Merekalah kumbang dalam tragis
Siapa salah, siapa salah
Tanpa jawab masih saja bertanya
Dalam belaian sutra sang laba-laba
Semua korban dari hati tanpa rasa
Thursday, 19 January 2012
Terkadang, Aku Memikirkan Banyak Hal
Terkadang, jawaban datang disaat kita sama sekali tidak memikirkannya, atau telah melupakannya.
Terkadang, seseorang tidak ditakdirkan untuk bersama.
Terkadang, seseorang ditakdirkan hanya untuk menjadi pengagum rahasia, tidak lebih.
Terkadang, kepahitan adalah hal termanis dalam hidup ini.
Terkadang, butuh waktu untuk menyadari realita.
Terkadang, diam menjadi jalan pintas.
Terkadang, kau bahkan tak tahu siapa dirimu sendiri.
dan Terkadang, banyak hal yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Terkadang, seseorang tidak ditakdirkan untuk bersama.
Terkadang, seseorang ditakdirkan hanya untuk menjadi pengagum rahasia, tidak lebih.
Terkadang, kepahitan adalah hal termanis dalam hidup ini.
Terkadang, butuh waktu untuk menyadari realita.
Terkadang, diam menjadi jalan pintas.
Terkadang, kau bahkan tak tahu siapa dirimu sendiri.
dan Terkadang, banyak hal yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Saturday, 24 December 2011
Poetry XVI
Dengan Kesendirianku
Karya M. Fariz Juliansyah
Bayangku di ujung sebrang
Dengan jurang tanpa jembatan
Bagaimana bisa kuraih?
Bagaimana kuraih dirimu kembali?
Kau bersamannya
Dengan aku yang kau damba
Dan bayang yang lama
Tanpa tahu saat ini berbeda
Maaf akanku yang telah hilang
Jauh ditelan kebosanan
Dan ketidaktahuan akan jalan
Kepada pelukmu yang nyaman
Aku disini sendiri tanpa arah
Dan kau disana dengan semua harapmu
Tanpa jembatan diantara kita..
Karya M. Fariz Juliansyah
Bayangku di ujung sebrang
Dengan jurang tanpa jembatan
Bagaimana bisa kuraih?
Bagaimana kuraih dirimu kembali?
Kau bersamannya
Dengan aku yang kau damba
Dan bayang yang lama
Tanpa tahu saat ini berbeda
Maaf akanku yang telah hilang
Jauh ditelan kebosanan
Dan ketidaktahuan akan jalan
Kepada pelukmu yang nyaman
Aku disini sendiri tanpa arah
Dan kau disana dengan semua harapmu
Tanpa jembatan diantara kita..
Wednesday, 28 September 2011
Poetry XV
Aku Pada Rindu
karya M. Fariz Juliansyah
Rindu.
Aku pada mentari cerahmu.
Aku pada terik paras wajahmu.
Aku pada senja senyummu.
Aku pada bintang di matamu.
Rindu.
Aku pada merdu suaramu.
Aku pada lembut genggammu.
Aku pada erat pelukmu.
Aku pada ciummu.
Rindu.
Aku pada kisahmu.
Aku pada kasihmu.
Aku bersamamu.
Selalu kurindu.
karya M. Fariz Juliansyah
Rindu.
Aku pada mentari cerahmu.
Aku pada terik paras wajahmu.
Aku pada senja senyummu.
Aku pada bintang di matamu.
Rindu.
Aku pada merdu suaramu.
Aku pada lembut genggammu.
Aku pada erat pelukmu.
Aku pada ciummu.
Rindu.
Aku pada kisahmu.
Aku pada kasihmu.
Aku bersamamu.
Selalu kurindu.
Subscribe to:
Posts (Atom)